Santai sejenak : Gara-gara nyidam sari

Tahun 80-an yang lalu (di Makassar), bu Johar mengandung anak pertama. Nah, waktu itu dia nyidam pengin makan durian, padahal waktu itu belum musim durian, repotlah jadinya.

Tiap hari pak Johar berusaha mencari durian, eh siapa tahu ada, tapi ternyata ya nggak dapat dapat jua, orang memang bukan musimnya! Karena
tiap hari direngekin istri yang pengin makan durian --dan ini yang lebih
penting takut anaknya 'ngecess' (keluar air liur) nantinya-- terpaksalah pak
Johar mencari informasi kesana kemari soal durian.


Akhirnya didapatlah informasi bahwa di restoran Bambu Kuning (sebut saja begitu)
ada durian, bukan dalam bentuk durian utuh, tapi berupa es durian. Ketika
ditawarkan ke bu Johar, dia setuju untuk melunasi nyidamnya dengan es durian
saja ... lha wong durian betulan juga nggak ada.


Yang jadi masalah, es durian itu adanya di 'restoran', sementara kata 'restoran'
masih merupakan hal yang tabu. Gimana nggak tabu, saat itu pangkat dan gaji
pak Johar masih relatif rendah, sehingga kata 'restoran' bagi mereka artinya
mahal !!


Begitulah, siang itu pak Johar dan bu Johar meluncur ke resotoran Bambu Kuning
dengan membawa uang sekitar 40 ribu rupiah, kalau sekarang barangkali ya sekitar 400
ribu, gitu. Cukup pede-lah untuk masuk restoran yang kata orang sangat mahal
itu.


Tiba di restoran, langsung menanyakan apa ada es durian dan dijawab ada, legalah
mereka, nyidam bisa terbayar. Nah, selain membeli es durian, untuk pantas-pantas
mereka memesan beberapa menu lainnya, diantaranya masakan dari jamur yang
waktu itu di sana masih merupakan barang langka, karena harus didatangkan dari
pulau Jawa dan oleh karenanya harus disimpan di kulkas supaya tahan lama.

Es durian di siang terik itu memang uenak tenan, tapi masakan jamurnya kurang matang, maklum sekian lama disimpan di kulkas akhirnya menjadi beku dan sewaktu dimasak, bagian luarnya sudah matang, sementara bagian dalamnya masih dingin . . . rasa es jamur! Alhasil tidak habis dimakan berdua.

Selesai makan ke kasir untuk membayar dan . . . . . matilah awak! Jumlah yang harus dibayar ternyata sekitar 70 ribu rupiah (kalau sekarang sekitar 700 ribu rupiah)!! Wah, badan jadi lemas! Malunya ngggak ketulungan. Bagaimana tidak, di kantong hanya ada uang 40 ribu, ATM dan kartu kredit waktu itu 'belum musim'. Dalam hati sudah mantab, kendaraan yang hanya sepeda motor bebek itu akan ditinggal sebagai 'boreg' atau jaminan sampai bisa membayar tagihan makan siang istimewa itu.

Kini pak Johar lebih yakin, kalau di restoran itu ya memang mahal, seperti
yang mereka duga !! Nah, untuk 'meyakinkan' bahwa memang mahal, selain memang
penasaran, pak Johar melihat ke 'daftar tagihan', sekedar pengin tahu es durian
itu satu porsi berapa dan masakan jamur yang didatangkan jauh-jauh dari Jawa itu
harga satuannya berapa. Ternyata ada yang janggal, bon tagihan yang ditulis
tangan itu, harga setiap makanan itu ditulis tidak 'rata kanan' ke bawah,
akibatnya penjumlahan yang juga pakai tangan itu (tidak pakai kalkulator,
apalagi cash machine, karena belum musimnya) menjadi salah. Seketika hatinya
lega. Setelah dikonfirmasikan ke kasir, ternyata benar salahnya, jumlah tagihan
yang betul sekitar 14 ribu saja !! Wah, plong rasanya.


Makan seharga 14 ribu kok ditagih 70 ribu ..... untung kelirunya agak
keterlaluan, kalau misalnya ditagihnya 35 ribu, mungkin pak Johar akan langsung
membayar (tanpa memelototin bon tagihan, seperti layaknya di film-film itu).


Weleh weleh . . . . .

Widarto

Note : Bu Johar dalam cerita ini ya istri saya sendiri dan tentunya pak Johar ya saya sendiri

Sekapuir Sirih

Blog ini saya buat sebagai ajang bertukar pikiran dan pengalaman.
Oh ya, saya dilahirkan di dekat gunung Tidar, alias asli Magelang. Tentunya saya orang Jawa. Saat ini saya sudah berkeluarga dan berdomisili di Bandung. Saya beragama Islam.
Semoga blog ini bermanfaat bagi kita semua

Salam,

Widarto