Wayang Ngawur : Kelahiran Karno

Alkisah Dewi Kunti, remaja putri, yang putri raja itu mendapat hadiah ulang tahun yang sangat berharga dari gurunya.. Hadiah itu berupa ‘handphone / hp’ yang saat itu merupakan barang super mewah dan super canggih. Yang punya hp saat itu hanya para dewa saja. Maka Dewi Kunti lalu mencoba-coba hp tsb, tentunya hanya bisa berhubungan dengan para dewa. Nah, suatu hari Dewi Kunti iseng-iseng menghubungi salah satau nomor, eh ternyata itu nomor hp-nya Batara Surya, seorang dewa yang menjabat sebagai Manager Tata Surya, dia yang mengatur segala hal terkait dengan tata surya, termasuk peredaran, kecepatan edar, jarak dan pernak-pernik mengatur tata surya.
Dari ngrumpi tiap hari itu, suatu saat Batara Surya mengajak temu darat, oleh Dewi Kunti diiyakan saja, sebab menurut perhitungannya itu tidak mungkin alias hil yang mustahal, sebab jarak keduanya (bumi-matahari) suangat jauh dan perlu biaya yang besar untuk menemui sang Dewi.
Eh, ternyata malam harinya Batara Surya benar-benar datang di kediaman Dewi Kunti. Maka merekapun ngrumpi ke sana kemari. Lama kelamaan ya masuk ke area berbahaya, ya namanya ada 2 orang lelaki dan perempuan berduaan, di malam hari lagi. Kencan inipun berlanjut di malam-malam selanjutnya. Maka terjadilah yang ada di lagunya Dian Pisesa :” Mulanya biasa saja, …. akhirnya hamil juga ….”. Hal ini tentunya membuat orang tua Dewi Kunti kalang-kabut. Maka mengenai hamilnya Dewi Kunti dirahasiakan dengan sangat-sangat rapat.

Ketika tiba waktunya Dewi Kunti melahirkan, agar tidak diketahui calon suaminya kelak –bahwa sang dewi pernah hamil–, kelahiran dilaksanakan secara sesar alias bedah perut. Kalau menurut dalang sih sang bayi diambil dari telinga Dwi Kunti, entah memang begitu atau ini hanya kiasan saja bahwa kelahiran sang jabang bayi ‘sangat dirahasiakan’, rumput dan daun tidak boleh mendengar, apalagi telinga. Kemudian sang bayi dilarung (dihanyutkan) di sebuah sungai.

Bayi tersebut lantas ditemukan dan dipelihara oleh seorang pertapa merangkap seorang guru, dia kemudian diberi nama Karna (artinya telinga). Dia kemudian dididik, diajari beladiri sampai tingkat paling tinggi, disekolahkan sampai jadi sarjana. Setelah itu baru disuruh mencari orang tuanya. Akhirnya dia kesasar ke Astina yang ternyata diterima dengan baik, diberi pekerjaan yang baik, bahkan belum 6 bulan menjabat sebagai Komandan Kompi sudah diangkat menjadi Bupati Awangga oleh raja Astina, sang Duryudana. Dia bahkan dikawinkan dengan Dewi Surtikanti, yang merupakan kakak dari istri Duryudana sendiri yang bernama Dewi Banowati. Sang dewi ini merupakan (Teman Tapi Mesra) TTM-nya Arjuna yang terkenal play boy. Tentunya Karna dibaik-baiki dengan harapan akan membela Kurawa kelak di perang Barata Yudha, dan memang Karna sangat setia kepada Kurawa.

Widarto