Rehat Dulu : Be Carrefour…

Kejadian ini bermula dari sebuah sekolah (semacam pendidikan) keagamaan atau teologi yang ada di Jakarta. Suatu saat sekolah tersebut akan mengadakan seminar keagamaan dengan mendatangkan seorang pembicara dari Negeri Paman Sam alias Amrik.
Pada hari yang telah ditentukan, diadakanlah penjemputan si Bule yang akan jadi pembicara di Bandara Soekarno Hatta dengan sopir yang telah dipersiapkan oleh panitia, sebut saja Jon Koplo.
Singkat cerita, bertemulah Jon Koplo dengan si bule Amrik yang bernama Tom Gembush.
”How are you, Mister Gembush?” sapa Koplo dengan bahasa Inggris seadanya.
”I’m fine. Thank you…” jawab Tom Gembush mantap.
Koplo pun age-age (buru-buru) nggeret (menarik) tangan Tom Gembush untuk diajak ke mobil menuju hotel yang telah dipersiapkan oleh panitia. Tapi berhubung tempat penginapannya jauh dari Bandara, Koplo langsung tancap gas agar cepat sampai. Nah, bermula dari acara kebut-kebutan itulah kejadian konyol ini terjadi.
Merasa khawatir kalau terjadi apa-apa, maka Mister Gembush mbengok (berteriak), ”Be carefull…! Be careful!!!” Maksudnya Jon Koplo disuruh berhati-hari, tidak usah ngebut. Namun lain tanggapan Koplo. ”Carrefour? Oh yes, I know… I know…” jawabnya. ”Wah, pasti landane iki arep blanja keperluane dheweke dhisik (Wah, pasti si belanda ini akan belanja keperluannya sendiri dulu),” pikirnya.
Maka dengan PD-nya Koplo mengarahkan mobilnya menuju ke sebuah pusat perbelanjaan terkenal di Jakarta, masih dengan kecepatan tinggi.
Si Bule heran campur judheg (pusing). ”Orang Indonesia kok ngeyel-ngeyel ya?” batinnya dalam bahasa Inggris. Tambah judheg (pusing) lagi setelah mobil diparkir di sebuah pusat perbelanjaan.
”Mister, this is Carrefour…” Koplo menjelaskan.
Tom Gembush terdiam sajak (kelihatan) bingung. Entah bagaimana dialog selanjutnya, yang pasti Tom Gembush pun akhirnya tertawa ngakak setelah mudheng (mengerti) duduk perkaranya.
Oalah, ada-ada saja.


Saduran dari Solopos@co.id

Widarto

Kesehatan : Membasuh Racun di tubuh

Hampir tiap hari kita memasukkan racun ke tubuh kita, misalnya :
1) Nasi yang diperoleh dari padi yang selalu diracun (insektisida), pestisida, pupuk, dll
2) Sayuran : bayam, wortel, dll yang sama saja sering diracun dan dipupuk. Juga kangkung yang diperoleh dari  ‘kota’ alias sawah tempat tumbuhnya menerima air dari selokan ‘kota’ yang full oli, busa sabun, bekas Baygon/ Raid, racun rumah tangga, sampai timah hitamnya kendaraan.
3) Buah-buahan juga banyak yang begitu : diracun, dipupuk
4) Ikan, daging yang diperoleh diberi makan produk anorganik plus kadang, diawetkan dengan formalin,  borax, dll
5) Obat-obatan yang sebenarnya juga racun
6) Udara kotor : terutama kalau naik motor tanpa masker.
7) Dll

Nah, bagaimana membasuh atau membuangnya ?
Ya seperti mencuci baju :
1) di-kucek-kucek/ dibanting, diperas
2) dibilas, digelontor  pakai air,
3) disabun.

Lho kalau racun di tubuh bagaimana?
1) Meng-kucek-kucek, dibanting, diperas : kalau yang ini ya dengan olah raga. Dengan olah raga,  badan serasa  di-kucek-kucek, dibanting, diperas. So, kalau ada racun ya mudah-mudahan  keluar semua.
2) Dibilas / digelontor pakai air : ya dengan minum yang banyak, minimal (katanya) 8 gelas sehari.
3) Pakai sabun : Nah kalau yang ini bisa pakai zat anti racun (antitoxin) yang dijual di apotek. Atau kalau mau mudah, enak dan alami minum saja air kelapa (terutama yang kulitnya berwarna hijau).

Jadi mulai sekarang kita perlu sering makan-makan dan minumnya es kelapa muda  . . . .
Asyik, enak, racun di tubuh bisa melayang . . .

Wd

Ctt : jaman saya kecil, baru-barunya ada racun untuk hama di sawah, banyak pemilik bebek yang keracunan saat digembala di sawah, akibat sawahnya disemprot dengan racun.
Obatnya saat itu ya air kelapa, terutama kelapa hijau

Rehat Dulu : Kambing ‘Makan’ Sapi

Biasanya kambing itu makan rumput, tapi kali ini ada kambing ”makan” sapi. Bahkan tidak tanggung-tanggung, seekor kambing bisa ”nguntal” (menelan) 5 ekor sapi sekaligus! Kisah nyata ini terjadi di daerah Kudus, seperti yang disampaikan seorang mubalig saat mengisi pengajian di Magetan. Kisahnya demikian…
Sebelumnya, Jon Koplo sangat antipati dengan yang namanya bunga. Terbukti, selama ini tak satu pun pot bunga menghiasi rumahnya. Namun ketika dunia per-”kembang”-an lagi ngetren, Jon Koplo ikut-ikutan heboh.
Ketika mendengar teman-temannya ada yang menjual motor, mobil, bahkan sawah ”hanya” untuk membeli tanaman jemani yang katanya bisa mendatangkan keuntungan berlipat ganda, Koplo pun berpikir pintas yaitu menjual kelima sapi miliknya dengan tiga pot jemani (nama tanaman yang sedang negtrend dan muahal sekalee)..
”Aku ya pengin ndang sugih kaya liyane, tinimbang ngopeni sapi ora manak-manak, makani terus. Aku wis kesel!” (“Aku ya ingin segera kaya seperti lainnya, daripada memelihara sapi nggak beranak-beranak, memberi makan terus. Aku sudah capek!”).  Wadul (pengaduan) Jon Koplo pada Tom Gembus, seorang makelar kembang yang juga temannya.
Dalam waktu sekejap berpindahlah dari tangannya 3 ekor sapi betina dan 2 ekor sapi jantan dewasa, ditukar dengan tiga pot jemani. Tak ada perasaan sedih di wajah Koplo. Ia malah mesam mesem (senyum-senyum) membayangkan untung jutaan rupiah tanpa susah2 kerja keras, paling pol cuma nyiram dengan air yang mudah dicari, pikirnya.
Lain halnya dengan Lady Cempluk, isterinya yang kurang ikhlas dengan keputusan sang suami karena sapi-sapi itu adalah warisan orangtuanya. Namun Cempluk tak bisa berbuat apa-apa.
Wis ta lah, gak usah mikir macem-macem, pokoke godhonge tambah siji ae, nek di dol bathine wis akeh, (Sudahlah, nggak usah mikir macam-macam, pokoknya daunnya tambah satu saja, dijual untungnya sudah banyak)”, bujuk Koplo.
Namun peristiwa menggegerkan terjadi pada keesokan harinya. Tidak seperti biasanya jam 5 pagi Koplo sudah ngarit (mencari rumput) dan makani (memberi makan) sapi-sapinya, pagi itu pukul 07.00 WIB Koplo belum bangun.
Pak, tangi! Wedhuse durung dipakani, aku arep nyang sumur (Pak, bangun! Kambingnya belum diberi makan, saya mau ke sumur), ” teriak Cempluk.
Halaaah, wedhus siji-ae, gampang. Mengko dhisik (Halaaah, kambing satu saja, gampang. Nanti dulu)!” Koplo meneruskan tidurnya.
E lhadalah ndilalah kopyah, merasa tidak digagas (dipikir), sang wedhus (kambing) keluar kandang dan melihat daun hijau melambai-lambai. ”Wah menu baru nih,” pikir sang kambing. Dan dalam waktu sekejap jemani milik tuannya pun sudah berpindah ke perutnya.
Begitu bangun tidur dan melihat keadaan tanamannya, Jon Koplo langsung semrepet… pet…pet… pet… dan pingsan dengan suksesnya.

Saduran dari Solopos
Widarto

Catatan :
Dari cerita di atas dan masih banyak cerita semacam itu (ada yang menjual seekor sapi, kemudian dibelikan tanaman, akhirnya tanaman itu dimakan sapi lainnya), kayaknya di Jawa Tengah dan Jawa Timur bisnis tanaman Anthurium sangat gegap gempita  . . . . . . .

Islam : Sabar dan sukur

Assalamu alaikum wr wb
Katanya sih, kalau bisa hidup ini selalu diisi dengan dua hal itu, sabar (shobar) dan sukur (syukur). Gak punya duit . . sabar, punya duit . . . sukur. Gaji / lembur/ insentif belum keluar . . . sabar, sudah terima . . . . sukur. dsb, dst.

Sabar itu katanya tidak sekedar ‘menerima keadaan’ (nrimo), tetapi perlu diikuti dengan ikhtiar. Sebagai contoh kalau sakit selain harus ‘menerima’ (tidak menyalahkan orang lain, bakteri, debu, dll. apalagi sampai menyalahkan Tuhan), juga harus berikhitiar, ke dokter, ke dukun, olah raga, dll.

Nah, dalam hal apa kita harus sabar ?
1) Dalam kehidupan sehari hari :  saat macet, ban kempes, anak nangis, masakan nggak enak, dll.
2) Saat mendapat musibah : keluarga sakit, uang hilang, dll.
3) Nah, sabar yang paling tinggi nilainya di sisi Allah adalah sabar dalam menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.
Seberapa tinggi level kesabaran kita ? Yuk kita introspkesi.

Bagaimana dengan sukur ? Sukur itu artinya terima kasih. Kalau ada yang memberi topi, sekalipun sudah mengucapkan terima kasih, tapi kalau topinya kita lempar ke tempat sampah, namanya bukan terima kasih.
Jika ada yang memberi handuk (tentunya maksudnya untuk handukan), kita ucapkan banyak terima kasih, kemudian handuk kita pakai sebagai keset (alas kaki), ya namanya juga bukan terima kasih, tapi ngeledek.

Jadi sukur harus bagaimana ? Ya menggunakan apa yang diberikan si pemberi sesuai peruntukan yang diinginkan yang memberi. Kalau makanan ya untuk dimakan, topi untuk dipakai di kepala, handuk untuk handukan, dst.

Sukur kepada Allah tentunya menggunakan kesehatan kita untuk beraktifitas yang baik, mata untuk membaca yang baik-baik, tidak untuk ngintip, otak untuk berpikir yang baik, untuk bekerja, dst;  tidak untuk berpikir yang ngeres, dst, dst.

Apakah kita sudah menggunakan segala hal yang diberikan oleh Allah (kesehatan, rejeki, istri/suami, gaji / penghasilan, mata, hidung, rambut, dll, dst) sesuai yang dikehendaki-Nya ?
Kalau sudah berarti kita termasuk orang bersyukur. Amin.
Wallahu a’lam

Wassalam,
Wd

Jawa : Jeneng Dina Lan Pasaran (Nama Hari dan Pasaran)

Kalau mau ngasih nama cucu dengan nama hari, berikut nama hari dan
pasaran Jawa.
Mohon maaf utk rekan lain, boleh baca juga sih sebagai wawasan
(kalau ada yg kurang jelas bisa ditanyakan ke tetangga sebelah).

Nama dinten sarta nama pasaran
(Nama hari dan nama pasaran. Pasaran maksudnya hari pasar untuk daerah tertentu).
A. Saptawara : wekdal ingkang gadhah puteran pitung dinten.

(Saptawara : waktu yang punya putaran tujuh hari).

1. Radite (Ngahad), –> Ahad, Minggu

2. Soma (Senen), –> Senin

3. Anggara (Selasa), –> Selasa

4. Buda (Rebo), –> Rabu

5. Respati (Kemis), –> Kamis

6. Sukra (Jumuwah), –> Jum’at

7. Tumpak (Setu) –> Sabtu.

B. Panwacara: wekdal ingkang gadhah puteran gangsal dinten.

(Panwacara : waktu yang mempunyai putaran lima hari)

1. Jenar (Pahing),
2. Palguna (Pon),
3. Cemengan (Wage),
4. Kasih (Kliwon), sarta
5. Manis (Legi).

Sumangga, pinangka wawasan.Nuwun.

(Silahkan sebagai wawasan)

Widarto

Asal Muasal : Setali Tiga Uang, Seringgit Si Dua Kupang

” Wah, kalau begitu sih, setali tiga uang . . . . .”
Apa anda pernah mendengar istilah ini (setali tiga uang) ? Kalau ya, apa hayo maksudnya ?
Untuk generasi tua (semacam saya ini) so pasti tahu, artinya : ‘sama saja’.
Lho kok setali tiga uang = sama saja ?

Jaman dulu (tahun 50-60an) uang yang beredar ada yang dalam pecahan satu rupiah. Ada pula pecahannya (lebih kecil dari satu rupiah) yang semua berupa uang logam, atau berupa kepingan, makanya suka ada yang menyebut keping, hepeng, dll.

Di bawah pecahan satu rupiah ada yang pecahan 1 sen (seper seratus rupiah), 5 sen (uangnya bolong di tengah), 10 sen (disebut juga satu ketip / kelip) kemudian ada 25 sen ini yang disebut setali, ada lagi pecahan 50 sen (alias setengah rupiah). Ada juga pecahan satu uang (kata orang tua sih, saya sendiri sudah tidak mengalami, melihat uang ‘satu uang‘ ini). Nah uang setali kalau di kurs (atau ditukar) menjadi tiga uang (tiga keping satu uang). Makanya timbul istilah ‘setali tiga uang’ itu.

Di atas satu rupiah ada uang seringgit (2,5 rupiah), lima rupiah dan 10 rupiah. Kemudian pecahan di atas satu rupiah ini bertambah terus 25 rupiah, 50 rupiah, dst…….. sampai 10.000 rupiah. Tahun 66-an ada ‘pemotongan’ uang, uang 1000 rupiah diganti dengan uang baru senilai satu rupiah. Kemudian uang yang beredar mengikuti nila uang baru itu. Jadi, kalau anda sekarang pegang uang 100 ribu rupiah, itu sama dengan anda pegang uang 100 juta rupiah di tahun 60-an. Hebat bukan ?!

Ada juga uang yang disebut satu benggol. Uang ini sebenarnya besaran 2,5 Gulden (uang Belanda) , di Indonesia dia ‘diperlakukan’ sama dengan dua setengah rupiah alias sama dengan seringgit. Belakang hari ketika infalasi sudah membubung tinggi dan uang benggol sudah ‘tidak laku’, maka kemudian uang ini sangat terkenal (dan nyaman) sebagai alat ‘kerokan’ bagi yang masuk angin.

Kembali ke jaman 60-an Saat itu ada uang bernilai 1 1/4 rupiah yang disebut satu kupang (yang ini saya juga nggak kebagian melihat uangnya). Maka seringgit nilainya dua kupang bukan ? Jadi nggak aneh kalau ada lagu berjudul seringgit si dua kupang yang artinya ya sama saja. Anda tahu lagunya ?

Salam,
Widarto

Wayang Ngawur : Kelahiran Karno

Alkisah Dewi Kunti, remaja putri, yang putri raja itu mendapat hadiah ulang tahun yang sangat berharga dari gurunya.. Hadiah itu berupa ‘handphone / hp’ yang saat itu merupakan barang super mewah dan super canggih. Yang punya hp saat itu hanya para dewa saja. Maka Dewi Kunti lalu mencoba-coba hp tsb, tentunya hanya bisa berhubungan dengan para dewa. Nah, suatu hari Dewi Kunti iseng-iseng menghubungi salah satau nomor, eh ternyata itu nomor hp-nya Batara Surya, seorang dewa yang menjabat sebagai Manager Tata Surya, dia yang mengatur segala hal terkait dengan tata surya, termasuk peredaran, kecepatan edar, jarak dan pernak-pernik mengatur tata surya.
Dari ngrumpi tiap hari itu, suatu saat Batara Surya mengajak temu darat, oleh Dewi Kunti diiyakan saja, sebab menurut perhitungannya itu tidak mungkin alias hil yang mustahal, sebab jarak keduanya (bumi-matahari) suangat jauh dan perlu biaya yang besar untuk menemui sang Dewi.
Eh, ternyata malam harinya Batara Surya benar-benar datang di kediaman Dewi Kunti. Maka merekapun ngrumpi ke sana kemari. Lama kelamaan ya masuk ke area berbahaya, ya namanya ada 2 orang lelaki dan perempuan berduaan, di malam hari lagi. Kencan inipun berlanjut di malam-malam selanjutnya. Maka terjadilah yang ada di lagunya Dian Pisesa :” Mulanya biasa saja, …. akhirnya hamil juga ….”. Hal ini tentunya membuat orang tua Dewi Kunti kalang-kabut. Maka mengenai hamilnya Dewi Kunti dirahasiakan dengan sangat-sangat rapat.

Ketika tiba waktunya Dewi Kunti melahirkan, agar tidak diketahui calon suaminya kelak –bahwa sang dewi pernah hamil–, kelahiran dilaksanakan secara sesar alias bedah perut. Kalau menurut dalang sih sang bayi diambil dari telinga Dwi Kunti, entah memang begitu atau ini hanya kiasan saja bahwa kelahiran sang jabang bayi ‘sangat dirahasiakan’, rumput dan daun tidak boleh mendengar, apalagi telinga. Kemudian sang bayi dilarung (dihanyutkan) di sebuah sungai.

Bayi tersebut lantas ditemukan dan dipelihara oleh seorang pertapa merangkap seorang guru, dia kemudian diberi nama Karna (artinya telinga). Dia kemudian dididik, diajari beladiri sampai tingkat paling tinggi, disekolahkan sampai jadi sarjana. Setelah itu baru disuruh mencari orang tuanya. Akhirnya dia kesasar ke Astina yang ternyata diterima dengan baik, diberi pekerjaan yang baik, bahkan belum 6 bulan menjabat sebagai Komandan Kompi sudah diangkat menjadi Bupati Awangga oleh raja Astina, sang Duryudana. Dia bahkan dikawinkan dengan Dewi Surtikanti, yang merupakan kakak dari istri Duryudana sendiri yang bernama Dewi Banowati. Sang dewi ini merupakan (Teman Tapi Mesra) TTM-nya Arjuna yang terkenal play boy. Tentunya Karna dibaik-baiki dengan harapan akan membela Kurawa kelak di perang Barata Yudha, dan memang Karna sangat setia kepada Kurawa.

Widarto