Asal Muasal : Setali Tiga Uang, Seringgit Si Dua Kupang

” Wah, kalau begitu sih, setali tiga uang . . . . .”
Apa anda pernah mendengar istilah ini (setali tiga uang) ? Kalau ya, apa hayo maksudnya ?
Untuk generasi tua (semacam saya ini) so pasti tahu, artinya : ‘sama saja’.
Lho kok setali tiga uang = sama saja ?

Jaman dulu (tahun 50-60an) uang yang beredar ada yang dalam pecahan satu rupiah. Ada pula pecahannya (lebih kecil dari satu rupiah) yang semua berupa uang logam, atau berupa kepingan, makanya suka ada yang menyebut keping, hepeng, dll.

Di bawah pecahan satu rupiah ada yang pecahan 1 sen (seper seratus rupiah), 5 sen (uangnya bolong di tengah), 10 sen (disebut juga satu ketip / kelip) kemudian ada 25 sen ini yang disebut setali, ada lagi pecahan 50 sen (alias setengah rupiah). Ada juga pecahan satu uang (kata orang tua sih, saya sendiri sudah tidak mengalami, melihat uang ‘satu uang‘ ini). Nah uang setali kalau di kurs (atau ditukar) menjadi tiga uang (tiga keping satu uang). Makanya timbul istilah ‘setali tiga uang’ itu.

Di atas satu rupiah ada uang seringgit (2,5 rupiah), lima rupiah dan 10 rupiah. Kemudian pecahan di atas satu rupiah ini bertambah terus 25 rupiah, 50 rupiah, dst…….. sampai 10.000 rupiah. Tahun 66-an ada ‘pemotongan’ uang, uang 1000 rupiah diganti dengan uang baru senilai satu rupiah. Kemudian uang yang beredar mengikuti nila uang baru itu. Jadi, kalau anda sekarang pegang uang 100 ribu rupiah, itu sama dengan anda pegang uang 100 juta rupiah di tahun 60-an. Hebat bukan ?!

Ada juga uang yang disebut satu benggol. Uang ini sebenarnya besaran 2,5 Gulden (uang Belanda) , di Indonesia dia ‘diperlakukan’ sama dengan dua setengah rupiah alias sama dengan seringgit. Belakang hari ketika infalasi sudah membubung tinggi dan uang benggol sudah ‘tidak laku’, maka kemudian uang ini sangat terkenal (dan nyaman) sebagai alat ‘kerokan’ bagi yang masuk angin.

Kembali ke jaman 60-an Saat itu ada uang bernilai 1 1/4 rupiah yang disebut satu kupang (yang ini saya juga nggak kebagian melihat uangnya). Maka seringgit nilainya dua kupang bukan ? Jadi nggak aneh kalau ada lagu berjudul seringgit si dua kupang yang artinya ya sama saja. Anda tahu lagunya ?

Salam,
Widarto

14 Tanggapan

  1. Terima kasih. Tidak tahu lagunya. Punya lirik dan/atau mp3?

  2. Pak Widarto,

    Wah saya baru lihat tulisan ini gara-gara duit mau di potong lagi . . . surfing surfing nemu tulisan bapak ini.
    Ini bagus sekali utk mengingatkan kita semua situasi pada saat itu yang tentu saja tidak sama dg sekarang ini hanya saja yang sama rencana pemotongan duit ini, mungkin karena malu nilai rupiah turun terus dalam 25 tahun terakhir ini, padahal seharusnya ekonomi yang yg dibenahi bukan benda penukar yang diganti, ini hanya semu/kosmetik saja khan . . .

    Wass

  3. aku udah lupa dengan asal usul istilah itu (waktu kecil pernah diceritakan opaku) tapi sekarang jadi ingat lagi…
    trims infonya….

  4. Mantap kawan. Terimakasih

  5. Terima kasih atas tanggapan anda. Semoga bermanfaat. Wd

  6. Ya, semoga anda bertambah ilmunya. Wd

  7. Wah … anda malah lebih banyak tahu daripada saya. Saya tidak tahu mengapa satu rupiah disebut satu perak. Padahal satu rupiah di tahun 45-50 an masih sangat tinggi nilainya. Tahun 60-an saja, saya dibekali uang ke sekolah sebesar 1 ketip (1/10 rupiah). Satu gulden itu yang saya tahu kira-kira setara dengan uang satu ringgit uang Malaysia sekarang. Wd

  8. Di waktu lain, akan saya tulis asal usul yg lain. Wd

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: